KOPERASI SEBAGAI BASIS EKONOMI ISLAM MOHAMMAD HATTA

“KOPERASI SEBAGAI BASIS EKONOMI ISLAM MOHAMMAD HATTA”

 

Abstrak

Koperasi menjadi instrument yang sangat penting untuk memajukan perekonomian Islam di Indonesia. Dalam pengelolaan koperasi tidak ada unsur kezaliman dan pemerasan, sebab pengelolaannya bersifat demokratis dan terbuka serta membagi keuntungan dan kerugian kepada para anggota secara renteng. Karena koperasi tidak bertentangan dengan hukum Islam dan dapat dibenarkan bahkan sangat dianjurkan. Dilihat dari peranannya, koperasi mempunyai dua fungsi yaitu fungsi ekonomi dan fungsi sosial. Dalam fungsi ekonomi, bentuk kegiatan-kegiatan usaha ekonomi yang dilakukan koperasi untuk meringankan beban hidup sehari-hari para anggotanya. Fungsi sosial, dalam bentuk kegiatan sosial yang dilakukan secara gotong royong atau dalam bentuk sumbangan berupa uang yang berasal dari laba koperasi yang disisihkan untuk tujuan-tujuan sosial, misalkan untuk mendirikan sekolah, tempat ibadah, dan sebagainya (Masjfuk Zuhdi, 1992: 112).

Dalam makalah yang saya buat ini, saya ingin membahas tentang pemikiran ekonomi islam Moh. Hatta tentang gerakan koperasi sebagai salah satu cara yang ditempuh Moh. Hatta untuk mencapai cita-cita pembaharuan Ekonomi Islam. Saya mengambil judul ini karena adanya ketertarikan saya untuk mengetahui seperti apa kinerja dari koperasi yang didirikan oleh Moh. Hatta tersebut untuk memajukan Ekonomi Islam. Namun banyak pendapat dari tokoh lain yang tidak sependapat dengan Mooh. Hatta. Tetapi Moh. Hatta tetap dengan pendiriannya untuk memajukan Ekonomi Islam dengan jalan koperasi, karena menurutnya koperasi dapat membantu meringankan beban kaum pelaku ekonomi kalangan lemah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Koperasi dikemukakan bahwa hampei semua orang mengenal koperasi. Secara harfiah bermakna kerja sama. Kerja sama dalam rangka mencapai tujuan bersama untuk kepentingan dan kemanfaatan bersama. Koperasi dikenal sebagai perkumpulan orang-orang yang secara sukarela mempersatukan diri guna mencapai kepentingan ekonomi atau menyelenggarakan usaha bersama dengan cara pembentukan suatu lembaga ekonomi yang diawasi bersama.[1] Bicara masalah Moh. Hatta pasti semua orang telah mengenal bahwa Moh. Hatta adalah wakil presiden Republik Indonesia yang pertama, namun disini ada sisi lain dari Moh. Hatta yang harus diketahui oleh masyarakat luas, yaitu Moh. Hatta sebagai bapak Koperasi Indonesia. Hatta memiliki pemikiran ekonomi Islam tentang koperasi karena semata-mata ingin rakyatnya merdeka. Kemerdekaan bagi Indonesia juga harus menjamin partisipasi rakyat di dalam pemerintahannya sendiri.[2] Pemikiran beliau didalam bidang ekonomi,yang sering disebut sebagai ekonomi kerakyatan, ekonomi sosialis ala indonesia, ekonomi sosialis religius ataupun ekonomi pancasila. Mungkin banyak kita mendengar bahwa beliau merupakan seorang “sekuler” yang sempat di pojokkan oleh beberapa pihak terutama pada jaman orde baru. Padahal jika kita tarik kebelakang kedalam susunan sejarah, beliau sangatlah dekat dengan pemikiran islam & beliau pun  merupakan keturunan seorang ulama terkenal ; Datuk Syaikh Abd al-Rahman. Selain itu juga banyak yang melupakan beliau sebagai “pemberi benih” lahirnya Ekonomi Pancasila, memang beliau tak pernah menyebut pemikiran ekonominya sebagai ekonomi pancasila didepan khalayak umum tetapi ekonomi pancasila yang lahir sekarang sangat terinspirasi oleh pemikiran beliau. Namun sepertinya saya lebih senang menyebut pemikiran ekonomi beliau sebagai pemikiran ekonomi sosialis religius ataupun ekonomi pancasila. Oleh karena itu disini saya sangat tertarik untuk memaparkan pemikiran-pemikiran ekonomi Moh. Hatta untuk mewujudkan cita-cita perekonomian Indonesia atas dasar kerjasama dan kebersamaan yaitu dengan mendirikan koperasi.

 

  1. Rumusan Masalah

Bersandar dari uraian yang dijelaskan diatas, dan dengan maksud untuk menyelesaikan masalah ekonomi Islam dengan jalan Koperasi, maka dapat dijadikan sebuah rumusan masalah guna membangun sebuah konsep Koperasi Islami yang diharapkan oleh masyarakat khususnya islam. Berikut adalah beberapa permasalahannya yang dapat dirumuskan:

 

  1. Siapa Moh. Hatta itu?
  2. Apa saja karya-karya Moh. Hatta?
  3. Bagaimana pemikiran ekonomi Islam Moh. Hatta tentang Koperasi?
  4. Apakah koperasi Moh. Hatta dapat mengatasi permasalahan Ekonomi Islam?

 

BAB II

PEMBAHASAN

Biografi Moh. Hatta

            Muhammad Hatta dikenal sebagai tokoh proklamator kemerdekaan Indonesia. Ia lahir di Bukitinggi, Sumatera Barat pada tanggal 12 Agustus 1902. Nama kecilnya adalah Muhammad ‘Ata yang merujuk pada (Ahmad Ibn) Muhammad (Ibn ‘Abd al-Karim ibn) ‘Ataillah al-Sakandari, yaitu pengarang kitab Al-Hikam (berbagai ajaran kearifan). Ia merupakan keturunan ulama Minangkabau. Kakeknya bernama Syekh Abdurrahman yang dikenal sebagai Syekh Batuhampar. Ibunya bernama Saleha yang merupakan keluarga pengusaha terpandang dari Bukittinggi. Ayahnya, Haji Mohammad Djamil adalah seorang mursyid, sebuah persaudaraan sufi atau tarekat di Sumatera Barat, yang meninggal ketika Hatta masih berusia delapan bulan. Hatta dibesarkan dalam keluarga yang berada dan terpandang. Sungguh pun demikian, bukan saja ia tidak bersifat sombong dan manja, tetapi sejak kecil sudah menunjukkan sikap disiplin.[3]

Selain itu, sejak SD Moh. Hatta telah gemar membaca. Semula Moh. Hatta belajar di Sekolah Rakyat sampai tahun ketiga, kemudian pindah ke sekolah Belanda, Europese Lagere School, dan selesai pada tahun 1916. Moh. Hatta menyelesaikan sekolahnya di Meer Uitgebreid Lagere Onderwijs,[4] setingkat SMP sekarang. Kemudian Moh. Hatta melanjutkan belajarnya ke Sekolah Menengah Dagang Jakarta. Dari Jakarta Moh. Haat berangkat ke Belanda untuk melanjutkan studinya di Nederland Handelshoge School. Ia berhasil menamatkan studinya dengan gelar Drs. Dalam bidang Ilmu Dagang pada 1932. Sebagai ilmuwan, Moh. Hatta terkenal sangat produktif. Karya-karyanya meliputi bidang politik, falsafat, dan ini yang terpenting yaitu bidang ekonomi. sebagai ekonom, Moh. Hatta sangat besar perhatiannya terhadap pembaharuan system ekonomi nasional. Salah satu gagasannya untuk memperbaiki perekonomian nasional adalah system koperasi. Karena sistem ini dipandang sangat sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia yang disamping memiliki semangat gotong-royong, juga sesuai dengan semangat masyarakat yang sedang berkembang.[5]

Sebagai seorang muslim yang taat dan sekaligus sebagai ekonom, Moh. Hatta pernah mengemukakan gagasan tentang pendayagunaan zakat. Menurut Hatta, zakat merupakan sumber daya ekonomi umat yang sangat potensial, jika dikelola dengan system yang tepat. Karenanya, untuk kepentingan tersebut, pada tahun 1966, Moh. Hatta pernah membuat Undang-Undang Pokok Wajib Zakat. Akhirnya, tokoh pergerakan nasional, proklamator, dan wakil presiden RI pertama yang memiliki keterlibatan sangat kuat dengan Islam, wafat pada tanggal 14 Maret 1980 (1400H) di Jakarta.

Di bawah ini beberapa pidato-pidato, tulisan dan ceramah-ceramah Moh. Hatta yang telah dicetak dan dijadikan buku:[6]

  1. Alam Pikiran Yunani, UI Press, Jakarta, 1986
  2. Membangun Kooperasi dan Kooprasi Membangun, Jakarta: Pusat Kooprasi Pegawai Negri, 1971
  3. Sosialisme Religius, Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2001
  4. Mohammad Hatta Bicara Marxis dan Sosialisme di Indonesia, Melibas, Jakarta, 2000
  5. Pengantar ke Jalan Ilmu Pengetahuan, Penerbit PT. Pembangunan, Jakarta, 1954
  6. Islam Society, Democracy and Peace, KBRI, New Delhi, 1955
  7. Lampau dan Datang, Penerbit Djambatan, Jakarta, 1960
  8. Tanggung Jawab Moril Seorang Intelegensia, Pidato hari Alumni Universitas, 1957
  9. Demokrasi Kita, Cetakan I, Penerbit Pandji Masyarakat, Jakarta, 1960, Cetakan 11, Penerbit Pustaka Antara, Jakarta, 1961.
  10. Peranan Pemuda Menuju Indonesia Merdeka Adil dan Makmur, Penerbit Angkasa, Bandung, 1966.
  11. Pancasila Jalan Lurus, Penerbit Angkasa, Bandung, 1966.
  12. Islam Masyarakat Demokrasi dan Perdamaian, Penerbit Tinta Mas, Jakarta, 1957.
  13. Bung Moh. Hatta Berpidato Bung Moh. Hatta Menulis, Penerbit Mutiara, Jakarta, 1979.
  14. Kumpulan Karangan Jilid Ī II, III, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1966.
  15. Pengertian Pancasila, Pidato Peringatan lahirnya Pancasila tanggal 1 Juni, 1955 di Gedung Kebangkitan Nasional, Penerbit Idayu Press, Jakarta, 1977.
  16. Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, Penerbit Tinta Mas, Jakarta, 1969.

Pemikiran Ekonomi Islam Moh. Hatta

Sebagai muslim yang taat pada agama, moh. Hatta pernah mengeluarkan pernyataan tentang pendayagunaan zakat. Menurutnya zakat merupakan salah satu sumber daya ekonomi umat yang sangat potensial, jika dikelola dengan sistem yang tepat. Pada tahun 1966 moh. Hatta membuat undang-undang tentang pokok wajib zakat. Sementara itu moh. Hatta juga pernah mengeluarkan pidato-pidato, tulisan dan ceramah-ceramahnya. Salah satu isi pidato yang dikeluarkan oleh moh. Hatta yaitu beliau mengungkapkan motif-motif ekonomi dibalik kolonialisme.[7] Suatu unsur penting pembentukan “Negara didalam Negara” berarti menghancurkan dominasi perusahaan swasta eropa. Dalam tujuan-tujuan ekonomi partai baru tersebut, hatta mengajukan koperasi sebagai sarana praktis yang memungkinkan orang Indonesia untuk melawan kekuasaan perusahaan asing. Hatta akan selalu menjadi penganjur koperasi. Untuk melawan pemerasan terhadap para tenaga kerja pribumi, ia mengusulkan diberlakukannya delapan jam kerja setiap harinya, sesuai dengan kebijakan gerakan buruh internasional. Hatta juga mengusulkan untuk dihapuskannya riba, yang bukan hanya tidak sejalan dengan agamanya, tetapi juga merupakan upaya untuk membebaskan tekanan dari hutang yang terus-menerus bagi petani Indonesia.

Moh. Hatta mempunyai cita-cita dasar perekonomian dimasa yang akan datang, beliau menginginkan perekonomian semakin jauh dari dasar individualisme, dan semakin tertarik pada kolektivisme untuk mencapai kesejahteraan bersama untuk itu moh. Hatta mencoba membangun perekonomian dengan mendirikan koperasi agar masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan kebutuhannya dengan harga yang semurah-murahnya. Sehingga muncullah UUD pasal 33 yang menjadi landasan berdirinya koperasi. Bunyi pasal 33 UUD 1945 yaitu :

“Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.”[8]

Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara.

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pasal 33 ini adalah sendi utama bagi politik perekonomian dan politik social Republik Indonesia. Disitu tersimpul dasar ekonomi teratur. Dasar perekonomian rakyat mestilah usaha bersama, dikerjakan secara kekeluargaan. Yang dimaksud dengan usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan ialah koperasi.[9] Oleh karena itu didalam diri masing-masing pelaku ekonomi harus ada semangat kekeluargaan dan kebersamaan serta kerjasama karena tanpa itu maka tujuan dan cita-cita pembangunan tidak akan tercapai. Menurut Moh. Hatta, UUD 145 pasal 33 memandang Koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia dan apabila dipelajari betul isi pasal itu, tampaklah bahwa daerah perekonomian Indonesia pada permulaannya dibagi dalam tiga bagian pertama dan yang dianggap penting ialah daerah Koperasi.[10] Perekonomian rakyat yang kecil-kecil hendaklah mengambil bentuk Koperasi, dan mengolah yang kecil-kecil pula.

Cita-cita koperasi Indonesia adalah menentang individualisme dan kapitalisme secara fundamental.[11] Paham koperasi Indonesia menciptakan masyarakat Indonesia yang kolektif, berakar pada adat istiadat hidup Indonesia yang asli, tetapi ditumbuhkan pada tingkat yang lebih tinggi, sesuai dengan tuntutan zaman modern. Semangat kolektivisme Indonesia yang akan dihidupkan kembali dengan koperasi mengutamakan kerjasama dalam suasana kekeluargaan antara manusia pribadi, bebas dari paksaan. Ia menghargai pribadi manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang bertanggung jawab atas keselamatan keluarganya dan masyarakat seluruhnya, tetapi menolak pertentangan dan persaingan dalam bidang yang sama.

Koperasi, sebagai badan usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan, didamaikan dalam keadaan harmonis kepentingan antar individu dan kepentiangan antar kelompok. Dan Koperasi adalah bentuk yang dianjurkan bagi perekonomian rakyat. Ide itu bukanlah cita-cita yang muncul ketika membuat Undang-undang dasar. Cita-cita itu timbul dalam perjuangan menentang penjajahan sejak permulaan abad ke 20 ini.

Menurut Moh. Hatta struktur perekonomian Indonesia di masa itu terdiri dari tiga golongan ekonomi yang tersusun bertingkat.[12] Golongan di atas, yang menguasai seluruh perekonomian kolonial ialah perekonomian kaum kulit putih. Produksi yang berhubungan dengan dunia luar hampir rata-rata berada di tangan mereka : Produksi perkebunan, produksi industri, jalan perhubungan laut, sebagian di darat dan di udara, ekspor dan impor, bank dan asuransi. Golongan kedua yang menjadi perantara dan hubungan dengan masyarakat Indonesia, kira-kira hampir 90% berada ditangan orang Tionghoa dan orang Asia lainnya. Orang Indonesia yang dapat menjadi golongan kedua ini paling banyak hanya 10%. Adapun golongan ketiga adalah golongan yang mengerjakan perekonomian dalam sekup yang kecil : pertanian kecil, pertukangan kecil, perdagangan kecil, dan lain-lain, dan pada wilayah ini ditempati oleh rakyat Indonesia.[13] Dalam keadaan perekonomian kolonial semacam itu, sehingga tumbuhlah pergerakan kemerdekaan yang mencita-citakan Indonesia merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur dikemudian hari, dan hiduplah keyakinan bahwa bangsa Indonesia dapat mengangkat dirinya keluar dari Lumpur, apabila ekonominya disusun sebagai usaha bersama berdasarkan koperasi. Keyakinan ini diperkuat pula oleh pengetahuan bahwa rakyat Inggris, Denmark, Swedia, dan lainnya didunia Barat sanggup mengangkat dirinya dari kemiskinan menjadi Negara yang makmur dengan jalan organisasi koperasi.[14]

Struktur perekonomian yang seperti ini menurut Hatta adalah tidak sehat dan tidak menguntungkan bagi rakyat kecil yang tidak punya modal. Bahkan dia melihat “soesoenan ekonomi jang sematjam itulah jang membesarkan kesoesahan rakjat dan membelenggoe dia dalam keadaan tidak mampoe.” Padahal yang menjadi pelaku sebenarnya dalam kehidupan ekonomi tersebut adalah bangsa Indonesia, karena kaum produsen, sebagian besar terdiri dari bangsa Indonesia. Kaum konsumen demikian pula. Akan tetapi kaum distribusi terdiri dari pada bangsa asing dan kelompok Cina.

Menurut Hatta, salah satu penyebab mengapa bangsa Indonesia tidak bisa memainkan peranan penting dalam hal ini adalah karena “penghasilan kita amat terpecah-pecah,” ekonomi kita, adalah ekonomi segala kecil. Contohnya saja dalam bidang produksi, dimana seorang petani hampir tidak punya modal sehingga sangat mudah terkena jerat orang-orang kejam. Jadi disini petani hanya sebagai penanam dan hasilnya akan diambil oleh orang yang kejam itu, disini sebut saja lintah darat. Untuk itu menurut Hatta, kita harus mencari solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini, menurut Hatta:

“ … tidak dapat ditolong dengan mengadakan bank parikoelir dengan tjap “nasional”, tidak dapat diperbaiki dengan mengadakan perkoempoelan anti riba. Keadaan itu hanya dapat diperbaiki berangsoer-angsoer dengan memberikan soesoenan kepada prodoeksi dan konsoemsi rakjat. Pendeknja dengan mengadakan produksi, konsumsi, koperasi dan dibantu dengan kredit koperasi.”

Jadi dalam pandangan Hatta solusi utama untuk mengatasi masalah mereka tidaklah terletak pada pemberian modal kerja atau keterampilan kepada mereka. Tetapi bagaimana kegiatan produksi dan konsumsi mereka ditata melalu suatu sistem manajemen atau keorganisasian yang disebut dengan koperasi.[15]

Hatta yakin koperasi akan bisa dijadikan sebagai alternatif bagi mengatasi masalah mereka karena kenyataan telah menunjukkan “bahwa rakyat Inggris, Denmark, Swedia, Norwegia dan lainnya di dunia Barat sanggup mengangkat dirinya dari miskin menjadi makmur dengan jalan koperasi.[16]

Jadi, tugas kita, kata Hatta, adalah bagaimana merebut jalan perdagangan itu dari pihak asing dan memindahkannya ke dalam pengelolaan kita sendiri. Di antara pribumi harus saling tolong menolong melalui wadah yang namanya koperasi, baik berupa koperasi konsumsi maupun koperasi produksi, dimana semangat yang akan dihidupkan kembali melalui koperasi ini menurut Hatta adalah semangat dan suasana yang: “ …. Mengutamakan kerjasama dalam suasana kekluargaan antara manusia pribadi, bebas dari penindasan dan paksaan. Ia menghargai manusia sebagai makhluk Allah yang bertanggung jawab atas keselamatan keluarganya dan masyarakat seluruhnya tetapi menolak pertentangan dan persaingan dalam bidang yang sama.”

Ini artinya organisasi yang bernama koperasi tersebut harus mampu memainkan peran ganda yaitu sebagai organisasi ekonomi dan sosial. Dnegan demikian yang menjadi prinsip utama dalam bangun usaha koperasi ini adalah prinsip “tanggung jawab bersama yang ditujukan untuk mencapai usaha bersama yang akan menjamin kemajuan bagi setiap peserta.”

Ada beberapa konsep koperasi menurut moh. Hatta. Beberapa puluh tahun yang lalu, pergerakan bangsa Indonesia kuat membangkitkan semangat “self help”.[17] Jika engkau hendak maju, berusahalah sendiri dengan tanpa mengaharapkan pertolongan orang lain, demikianlah wujud semboyan bangsa Indonesia saat itu. Dan bagi rakyat yang lemah ekonominya, tidak ada jalan lain yang digunakan untuk memajukan usahanya selain dari pada koperasi. Koperasi adalah senjata persekutuan bagi kalangan lemah untuk mempertahankan hidupnya. Koperasi bukanlah suatu wadah yang bertujuan untuk mencari keuntungan semata-mata, melainkan usaha bersama dengan jalan semurah-murahnya. Yang diutamakan koperasi adalah supaya sekutu-sekutunya dapat membeli barang dengan harga murah. Dan setiap akan melakukan pembelian barang hendaknya dalam jumlah yang besar, agar mendapatkan harga yang murah. Lalu keuntungan yang didapat dalam koperasi tersebut harus dipandang sebagai keuntungan tersambil, yaitu keuntungan yang didapat karena adanya transaksi jual beli barang yang ada dalam koperasi tersebut.

Demi kelangsungan koperasi, hendaknya berdiri di atas dua tiang, yaitu solidariteit, setia bersekutu, dan individualiteit, kesadaran akan harga diri sendiri. Ini adalah suatu sifat dan karakter kokoh yang tidak boleh dihapuskan. Arti individualisme adalah dasar yang mendahulukan hak individu daripada hak masyarakat. Individualisme menuntut kemerdekaan setiap individu untuk mencapai keperluan hidupnya. Tetapi individualiteit adalah sifat individu yang menjadi indikator akan kehalusan budi, serta keteguhan  wataknya, yang memaksa orang lain menghargai dan memandangnya,

Solidariteit dan individualiteit mesti ada pada koperasi. Apabila kurang salah satunya, maka koperasi itu kurang baik jalannya. Koperasi tersebut masih bisa berdiri dan bekerja, tetapi tidak menurut semestinya. Sehingga dalam membangun koperasi, hendaklah menyempurnakan kedua tiang tersebut.

”….Dalam koperasi konsumsi misalnya. Dalam koperasi ini, terutama bagi rakyat kecil yang terlebih dahulu terasa bagi mereka adalah bagaimana mendapatkan barang keperluannya dengan harga yang semurah-murahnya.[18] Makin murah harga tiap macam barang makin banyak keperluannya yang dapat dipuaskannya. Sebab itu kaum buruh lekas tertarik hatinya kepada koperasi konsumsi. Tetapi itu saja tidak cukup karena apabila kaum buruh tadi tidak ada mempunyai individualitas tidaklah ada semangatnya untuk membela keperluan hidupnya. Dia akan cepat menyerah sehingga niatnya berkoperasipun hilang. Sekalipun ada koperasi dia akan acuh tak acuh saja. Tetapi kalau anggota koperasi itu tidak mempunyai solidaritas, ia tidak akan merasa perlu kepada kepentingan bersama, sehingga ia dengan mudahnya terpedaya dan lari membeli ke tempat lawan koperasinya. Dia baru sadar setelah koperasinya mati dan lawan koperasinya yang dulunya menjual murah sekarang sudah menaikkan harga barangnya. Jadi dengan demikian, kata Hatta koperasi memerlukan solidariteit dan individualiteit karena ”solidariteit mendorong anggota untuk, senantiasa memperhatikan keperluan bersama, sementara individualiteit menginsafkan harga diri sendiri dan memperkuaat semangat memajukan usaha bersama tadi.”[19]

Demikian juga halnya dalam koperasi kredit, menurut Hatta ”Individualitas harus dikedepankan.[20] Dalam koperasi ini pinjaman hanya diberikan kepada para anggotanya saja, jadi berbeda dengan koperasi konsumsi yang menjual barang kepada yang bukan anggotanya. Anggota meminjam karena dia ingin maju, untuk itu dia harus aktif bekerja, sebab individualitas harus dikedepankan dalam kredit. Tetapi juga harus disertai dengan solidaritas, agar ia tidak hanya menguntungkan diri sendiri, asal ia dapat pinjaman, akibatnya orang lain tidak diperdulikan. Sehingga rambu-rambu kebersamaan diabaikan. Ketika dia harus mengembalikan angsuran pinjamannya dan ketika itu juga ada peluang untuk dia tidak memulangkannya dan dia lebih suka membayar denda yang dijatuhkan oleh koperasi kepada dirinya. Akibatnya uang tidak ada di koperasi sehingga hal ini merugikan anggota lain yang harus mendapatkan giliran kredit.

Dalam koperasi produksi, yang menjadi tujuan adalah bagaimana menghasilkan barang yang semurah-murahnya untuk keperluan konsumen atau sipemakai.[21] Oleh karena itu guna koperasi produksi ialah merasionalkan penghasilan dan membesarkan harga barang yang dihasilkan. Harga barang tani bisa dibesarkan jika ia dibawa dari tempat yang jauh ketempat yang berkehendak atau membutuhkan. Hal ini sangat membutuhkan organisasi yang mempunyai individualitet. Sebab pada diri merekalah terdapat semangat untuk mencari keuntungan sehingga mereka mampu menghasilkan barang produksi mereka dengan harga yang tinggi. Sehingga keuntungan bagi anggota dapat lebih meningkat. Dengan meningkatnya keuntungan yang didapat koperasi maka meningkat pula solidaritas mereka.

Untuk menjaga kedua pilar tersebut, menurut Hatta koperasi harus menjaga dan memelihara kerukunan anggota, dimana apabila terjadi perselisihan maka akan dengan mudah diperdamaikan dengan memberi kepuasan kepada kedua belah pihak. Sehingga dalam anggaran dasar harus adanya peraturan tentang memperdamaikan perselisihan untuk anggota-anggotanya.[22]

Koperasi konsumtif, kredit maupun produksi dalam implementasinya tidak hanya mencari keuntungan semata, namun dalam koperasi tersebut ada muatan sosial. Koperasi juga mencari untung, tetapi keuntungan dalam koperasi kata Hatta ”hanya terbawa dalam melaksanakan usaha, bukan dicari”. Sehingga koperasi tersebut akan selalu memberikan yang terbaik untuk anggota. Untuk itu koperasi harus memberikan harga yang murah kepada anggotanya. Seperti halnya pada praktek perdagangan modern yang ada saat ini, dimana para produsen akan memberikan harga yang murah, berupa discount, bonus untuk menarik konsumennya.

Dengan demikian nyatalah, kata Hatta ”bahwa koperasi wujudnya mencapai keperluan bersama dengan ongkos yang semurah-murahnya”. Oleh karena itu apabila ada koperasi yang orientasinya hanya mencari keuntungan semata, maka sama saja ia menarik lehernya sendiri.

Untuk membangun usaha koperasi yang baik seperti yang diinginkan Hatta, selain memerlukan persyaratan-persyaratan teknis, juga yang tidak kalah pentingnya adalah koperasi memerlukan persyaratan moral berupa nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh anggota koperasi itu sendiri, seperti koperasi yang menjunjung tinggi nilai keadilan, musyawarah, kebersamaan, tolong-menolong, keinginan untuk maju yang tinggi pada setiap anggotanya. Ini artinya koperasi ingin menjadikan setiap anggotanya menjadi individu yang berarti, dimana ia selalu memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri juga kepedulian kepada lainnya.

Itulah mungkin penyebab dari Hatta sampai kepada kesimpulan bahwa “organisasi-organisasi koperasi sesuai benar dengan cita-cita islam, karena islam meletakkan tanggung jawab pada individu untuk keselamatan masyarakat seluruhnya.” Disamping itu Hatta juga melihat bahwa koperasi juga mampu menyeimbangkan dan memadukan dua kesejahteraan utama yang diinginkan manusia yaitu kesejahteraan lahir dan batin. Jadi, menurut Hatta peranan agama dalam peroperasian itu sangat penting karena agama merupakan roh dari koperasi itu sendiri. Tetapi nampaknya Hatta tidak mencoba untuk menghubungkan konsep dan operasionalisasi koperasinya dengan konsep islam yang lain seperti dengan konsep syirkah dan mudharabah yang tekanannya adalah pada penegakan system yang nonribawi, sehingga seperti yang dikatakan Mochtar Naim “ kelihatannya (konsep koperasi Hatta), kurang conversant dengan prinsip ekonomi islam.[23]

Jadi dalam kesimpulan Mochtar Naim Hatta tampak lebih mementingkan jiwa dan etika yang terdapat dalam islam dibanding dengan mengambil sistem dan bentuk strukturnya. Hal ini juga dibenarkan oleh Bachtiar effendi, dalam konteks koperasi misalnya, Hatta lebih menekankan kepada pengembangan etika berkoperasi yang diambil nilai-nilainya dari ajaran islam seperti tolong menolong, kerjasama dll. Tetapi hal ini juga dapat dipahami, apalagi menyangkut masalah ribawi dan bunga.[24] Hatta tidak pernah membantah masalah keharaman riba karena sudah dijelaskan dalam Q.s. al-Baqarah (2): 275-278. Namun tentang masalah bunga, Hatta tidak termasuk orang yang mengharamkannya. “selama tingkat suku bunga tersebut telah ditetapkan terlebih dahulu, sehingga kemudian seorang dapat memutuskan secara lebih tepat apakah hal itu menguntungkan atau tidak untuk meminjam uang tersebut.”

Hatta sangat mempersyaratkan adanya kejelasan dan keterbukaan pada awal transaksi, karena bagi Hatta dalam transaksi tersebut harus ada kerelaan dari kedua belah pihak. Oleh karena itu pandangan Hatta “bila seseorang masih tetap ingin mempergunakan jasa bank, berarti ia telah rela membayar bunganya. Sebaliknya bila bunga dilakukan dengan diam-diam maka ia termasuk riba.

Dari sini terlihat bahwa Hatta memandang bunga bank sebagai sesuatu yang positif, malahan secara keras beliau menyatakan bahwa “siapa yang tak suka kepada kedudukan bunga apa juga, lebih baik ia menolak segala kemajuan, menolak adanya bank.” Jadi Hatta tidak dapat membayangkan jika dalam bank dan koperasi tidak adanya bunga, seperti yang ada sekarang ini. Bagi Hatta hal itu akan terjadi “asalkan semua pekerja bank tidak diberi gaji.”

Kendati Hatta menghalalkan bunga, tidak pantas juga bagi kita untuk mencap pemikiran ekonomi Hatta ini seluruhnya tidak sejalan dengan ajaran islam, karena seperti dikatakan Sri-Edi Swasono “cakupan Ekonomi Syariah tidak sepatutnya direduksi menjadi masalah riba dalam arti sempit itu, yaitu riba dalam arti bunga pinjam meminjam ataupun yang berkaitan dengan perbankan konvensional.[25]

Untuk itu adilnya menurut Hatta, orang yang lemah dan tertindas ini perlu dibela dan diperhatikan.[26] Pandangan Hatta yang seperti ini tentu selaras dengan apa yang diajarkan dalam islam. Bahkan dalam surat al-Maun: 1-3, Tuhan menyatakan bahwa adalah pendusta agama orang yang menyia-nyiakan anak yatim dan tidak mau membela dan member makan orang miskin. Jadi peduli dan berjuang untuk kepentingan orang adalah kewajiban bagi orang yang menyatakan dirinya muslim.

Dengan demikian, secara umum, mengingat luhurnya maksud yang terkandung dalam konsep koperasi yang hendak dibangunnya, maka dapat disimpulkan bahwa pemikiran Hatta tentang koperasi ini sangat sesuai dengan ajaran Islam terutama seperti yang terkandung dalam Qs. Al-Maidah: 5: 3 yang memang sangat mendorong akan adanya kerjasama dan tolong menolong dalam kebaikan dan taqwa di dalam segala segi kehidupan termasuk dalam bidang ekonomi.[27]

 

BAB III

PENUTUP 

Kesimpulan

            Mohammad Hatta, wakil presiden pertama dan proklamator bersama Republik Indonesia, adalah orang yang hamper seluruh hidupnya diabdikan untuk sesuatu yang ideal. Pemikiran ekonomi Moh. Hatta disini dimana ia menginginkan atau mencita-citakan perekonomian yang semakin jauh dari individual dan semakin tertarik dengan kolektivisme untuk mencapai kesejahteraan bersama, oleh karena itu muncullah pemikiran Moh. Hatta mengenai pembangunan Koperasi. Menurut saya cita-cita dari Moh. Hatta untuk menangani masalah perekonomian dengan membangun koperasi adalah suatu jalan atau ide yang sangat baik, karena dengan jalan koperasi tidak hanya masyarakat kalangan atas saja yang dapat menjadi pelaku ekonomi, namun dari kalangan yang kurang mampu juga bisa menjadi pelaku ekonomi. bukan hanya itu, didalam koperasi juga tertanam semangat kekeluargaan dan kebersamaan serta kerjasama pada diri suatu individu karena itu maka tujuan dan cita-cita pembangunan perekonomian yang dicita-citakan oleh Moh. Hatta akan tercapai.

 

 

BAB IV

DAFTAR PUSTAKA

  • Abbas Anwar, Bung Hatta & Ekonomi Islam: Pergulatan Menangkap Makna keadilan dan Kesejahteraan, Jakarta: LP3M STIE Ahmad Dahlan, 2008.
  • Rose Mavis, Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 1991
  • Dra. Ninik Widiyanti. Koperasi dan Perekonomian Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta, 1992
  • Subyakto Harsoyono, Ekonomi Koperasi, Yogyakarta: Liberty, 1983
  • Suhrawandi Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2004
  • Mohammad Hatta, Beberapa Fasal Ekonomi: Djalan ke Ekonomi dan pembangunan, Djakarta: Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Tjetakan keenam, 1960

[1] Suhrawardi Lubis, Hukum Ekonomi Islam, hlm. 123

[2] Indonesia Merdeka: Biografi Politik Muhammad Hatta, hlm. xv

[3] Dikutip dari artikel “Biografi Moh. Hatta, hlm. 53

[4] Mavis Rose, Indonesia Merdeka: Biografi Politik Mohammad Hatta, hlm. 13

[5] Dikutip dari artikel “Biografi Moh. Hatta” hlm. 55

[6] Dikutip dari artikel “Biografi Moh. Hatta, hlm. 57

[7] Dra. Ninik Widiyanti, Koperasi dan Perekonomian Indonesia, hal 165

[8] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 196

[9] Dra. Ninik Widiyanti, Koperasi dan Perekonomian Indonesia, hal 167

[10] Dra. Ninik Widiyanti, Koperasi dan Perekonomian Indonesia, hal 164

[11] Dra. Ninik Widiyanti, Koperasi dan Perekonomian Indonesia, hal 174

[12] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 200

[13] Dra. Ninik Widiyanti, Koperasi dan Perekonomian Indonesia, hal 166

[14] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 201

[15] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 204

[16] Dra. Ninik Widiyanti, Koperasi dan Perekonomian Indonesia, hal 166

[17] Dra. Ninik Widiyanti, Koperasi dan Perekonomian Indonesia, hal 168

[18] Harsoyono Subyakto, Ekonomi Koperasi, hlm. 37

[19] Mohammad Hatta, Beberapa Fasal Ekonomi: Djalan ke Ekonomi dan pembangunan, (Djakarta, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Tjetakan keenam, 1960), hlm. 128

[20] Mohammad Hatta, Beberapa Fasal Ekonomi: Djalan ke Ekonomi dan pembangunan, (Djakarta, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Tjetakan keenam, 1960), hlm. 129

[21] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 213

[22] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi islam, hlm. 212

[23] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 225

[24] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 226

[25] Dalam pernyataan diatas sudah jelas Hatta ingin membela rakyat kecil dan orang miskin. Dalam pandangan Hatta tanpa kehadiran lembaga koperasi dalam struktur perekonomian yang seperti demikian dan hanya menyerahkan penyelesaian masalah ekonomi masing-masing individu tersebut kepada mekanisme pasar, dalam pandnagan Hatta apa yang namanya keadilan, persaudaraan dan kebersamaan serta harmoni dalam kehidupan ditengah-tengah masyarakat tidaklah akan dapat terwujud karena bagaimana mungkin mereka yang tidak punya uang, hidup miskin dan serba kekurangan akan berhadapan dengan orang kaya yang memiliki modal besar.”lihat, Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 228

 

[26] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 228

[27] Anwar Abbas, Bung Hatta dan Ekonomi Islam, hlm. 229

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s